Minggu, 12 Februari 2012

AYAT AL-QUR'AN TENTANG RASUL (Sebagian, diantara sekian banyak ayat tentang Rasul)

OLEH, FAHIROH
BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Jikalau saat ini kita berfikir, bagaimana bisa kita meyakini Allah sebagai Tuhan kita dengan sendirinya, tanpa petunjuk apapun? Mungkin kita berfikir alam akan menunjukkan kepada kita tentang hal tersebut? Tapi apakah betul kita mengetahui Allah sebagai Tuhan kita betul-betul dari proses pengamatan terhadap alam? Faktanya setelah kita mengetahui Allah adalah tuhan kitapun, terkadang kita melupakan bahwa alam itu ciptaan Allah yang mesti kita jaga.
Ada hal atau faktor lain yang menyebabkan kita mengenal Allah, yaitu dari perkataan Allah Swt yang terkumpul dalam kitab-kitab-Nya yang berfungsi sebagai petunjuk bagi kita semua manusia. Lantas timbul pertanyaan selanjutnya, pada siapakah Allah menurunkan wahyu yang merupakan perkataan Allah tersebut? Mengapa bukan kepada kita langsung? Bukankah Allah Maha kuasa atas segala sesuatu? Tentu hal itu adalah mudah bagi Allah, jika Allah berkehendak. Hanya Allah yang mengetahui alasannya. Akan tetapi kita selaku manusia bisa berfikir mencari logika yang menguatkan. Semisal, Allah mengetahui kapasitas masing-masing dari setiap makhluk yang Ia ciptakan, sehingga Allah hanya memilih beberapa dari manusia yang sanggup atau dapat menerima wahyu atau perkataan Allah tersebut. Atau kembali kepada asumsi dasar, karena Allah Maha kuasa atas segala sesuatu dan Maha berkehendak, kehendak Allahlah yang akan terjadi, yaitu Allah memberi petunjuk kepada manusia melalui perantara manusia pilihan yang biasa kita sebut Rasulullah.
Oleh karena itu, dalam hal petunjuk Ilahiyah, Rasul sangat berjasa dalam transformasi nilai dan ajaran yang berasal dari Allah tersebut, untuk kita manusia yang beriman. Transformasi yang pada akhirnya akan terjadi terus menerus, dari satu generasi kepada generasi berikutnya hingga akhir zaman, meski kita ketahui, bahwa Rasul terakhir yaitu Rasulullah Muhammad Saw telah lama tiada.
B.     RUMUSAN MASALAH
a.       Apa diantara banyak Ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan ke-Rasulan?
b.      Apa maksud atau  pentafsiran ayat-ayat tersebut?
c.       Apa hikmah yang bisa dipetik dari ayat-ayat  tersebut?
C.    TUJUAN
a.       Pembaca mengerti dan memahami diantara ayat-ayat yang berkaitan dengan ke-Rasulan.
b.      Pembaca dapat mengambil hikmah/ pelajaran dari ayat-ayat yang berkaitan dengan ke-Rasulan tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

1.      Al- Qur’an Surat Al-Anbiya Ayat 25


Artinya :    “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya; bahwasannya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. Al-Anbiya’ : 25)
§  Tafsir Al- Qur’an Surat Al-Al-Anbiya Ayat 25
Dan kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu Muhammad, kecuali kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah, kecuali Allah, maka ikhlaskanlah ibadah hanya untuk-Nya.[1]         
Maka setiap Nabi yang diutus oleh Allah mengajak untuk beribadah hanya kepada Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, dan fitrah pun menjadi saksi hal tersebut. Sedangkan orang-orang musyrik tidak memiliki bukti dan hujjah yang jelas di sisi Rabb mereka, mereka akan mendapatkan kemurkaan dan azab yang amat pedih.[2]
2.      Al- Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 51 – 53



Artinya:     “Dan ingatlah ketika Kami menjanjikan kepada Musa empat puluh malam. Kemudian kamu (Bani Israil menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sesembahan) setelah (kepergian)-nya dan kamu (menjadi) orang yang dzalim. (Qs. 2:51) Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur. (Qs. 2:52) Dan ingatlah, ketika Kami berikan kepada Musa Al-kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk. (Qs. 2:53)”
§  Tafsiran Al- Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 51 - 53
Dan ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kalian, yakni ketika Kami janjikan kepada Musa selama empat puluh malam untuk menurunkan Taurat sebagai Hidayah dan petunjuk bagi kalian, sementara kalian memanfaatkan kepergian Musa yang sebentar itu untuk membuat patung  anak sapi yang kemudian kalian sembah. Dan itu merupakan kekafiran yang nyata kepada Allah. Sungguh, dengan menjadikan patung anak sapi itu sebagai tuhan, kalian telah berbuat dzalim.[3]
Allah berfirman: “Ingatlah berbagai nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kalian, yaitu berupa ampunan yang Ku-berikan kepada kalian atas tindakan kalian menyembah anak sapi setelah kepergian Musa untuk waktu yang ditentukan Rabb-Nya, yaitu setelah habis masa perjanjian selama 40 hari.” Itulah perjanjian yang juga disebutkan dalam surat Al-A’raf ayat 142 dalam firman-Nya:
Artinya:     “Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa (memberikan Taurat) tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malamlagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhan-Nya empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada saudaranya (yaitu) Harun, “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah (dirimu dan kaummu), dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Ada pendapat yang menyatakan, bahwa bulan dzulqa’dah penuh ditambah dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Hal itu terjadi setelah mereka bebas dari kejaran Fir’aun dan selamat dari tenggelam kedasar laut.
Firman Allah; “Dan ingatlah, ketika Kami berikan kepada Musa Al-kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk. Peristiwa tersebut juga terjadi setelah mereka berhasil keluar dari laut, sebagaimana yang ditunjukkan oleh konteks ayat yang terdapat dalam surat Al-A’raf.[4]

3.      Al- Qur’an Surat Al-Jumu’ah Ayat 2

Artinya :          “ Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengerjakan kepada mereka Al-kitab dan Al-hikmah (As-sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Al-Jumu’ah:2)
§  Tafsir Al- Qur’an Surat Al-Jumu’ah Ayat 2
Allah mengutus pada bangsa Arab yang buta huruf, tanpa kitab suci, dan tidak ada risalah yang disampaikan sebelumnya, seorang Rasul dari kalangan mereka (yang diutus) untuk seluruh umat manusia. Dia membacakan kepada mereka Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebelum diutusnya sang Nabi, mereka benar-benar menyimpang dari kebenaran. Dan Allah telah mengutus Rasul-Nya kepada kaum yang belum pernah didatangi sebelumnya dan mereka akan mendatangi Arab serta bangsa lainnya. Dan Allah semata yang Maha perkasa yang berkuasa atas segala sesuatu; Maha bijaksana dalam firman-Nya.[5]
Ayat ini merupakan bukti dikabulkannya permohonan Nabi Ibrahim As, ketika beliau mendo’akan penduduk Makkah agar Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang dapat membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan dan mengajarkan mereka al-kitab dan al-Hikmah. Kemudian Allah Swt mengutus Rasul-Nya kepada mereka, -segala puji dan sanjungan hanya bagi Allah- setelah sekian lama Rasul tidak muncul dan tidak adanya bimbingan yang lurus, padahal kebutuhan terhadap-nya begitu mendesak.[6]
Yang demikian itu karena orang-orang Arab dahulu berpegang teguh kepada agama Ibrahim, namun mereka mengganti, merubah, memutarbalikkan, menyimpangkan darinya, serta menukar tauhid dengan syirik dan merubah keyakinan dengan keraguan. Mereka membuat perkara-perkara baru yang tidak di izinkan oleh Allah Swt sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ahlul kitab yang mengganti, menyelewengkan, dan merubah kitab-kitab mereka, serta menakwilkannya. Kemudian Allah mengutus Muhammad dengan membawa syari’at yang agung, lengkap lagi mencakup seluruh kebutuhan makhluk. Didalamnya terdapat petunjuk dan penjelasan segala sesuatu yang mereka butuhkan, baik yang menyangkut kehidupan dunia maupun akhirat mereka, serta mengajak mereka kepada amalan yang mendekatkan mereka kepada surga dan keridhahan Allah, serta menjauhi segala sesuatu yang mendekatkan mereka kepada neraka dan kemurkaan Allah. Kitab itu pula yang memberikan keputusan dan penjelasan konkret tentang berbagai syubhat, keraguan dan kebimbangan dalam masalah-masalah pokok (ushul) maupun cabang (furu’). Dan Allah telah mengumpulkan berbagai kebaikan dari orang-orang terdahulu. Kitab itu pula yang menceritakan tentang apa-apa yang diberikan kepada orang-orang terdahulu yang tidak diberikan kepada orang-orang yang hidup terakhir, atau sebaliknya. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada Beliau hingga hari kiamat.[7]
4.      Al- Qur’an Surat Al-Anbiya Ayat 107

Artinya ;    “Dan tiadalah kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam“(QS. Al-Anbiya’ : 107)
§  Tafsir Al- Qur’an Surat Al-Anbiya Ayat 107
Kami tidak mengutusmu –Wahai Muhammad- kecuali sebagai rahmat bagi seluruh manusia. Siapa yang beriman kepadamu, niscaya akan bahagia dan selamat (dari api neraka) dan siapa yang tidak beriman, niscaya akan merugi (di akhirat).[8]
Allah mengabarkan bahwa Dia telah menjadikan nabi Muhammad sebagai rahmat bagi semesta alam. Yaitu, Dia mengutusnya sebagai rahmat untuk kalian semua. Barang siapa yang menerima rahmat dan mensyukuri nikmat ini, niscaya dia akan berbahagia di dunia dan di akhirat. Sedangkan barang siapa yang menolak dan menentangnya, niscaya dia akan merugi di dunia dan di akhirat.[9]
              Muslim di dalam shahihnya meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata :” ya Rasulullah! Sumpahilah orang-orang musrik” beliau berkata :
“Sesungguhnya Aku tidak diutus sebagai orang yang melaknat, aku diutus hanyalah sebagai rahmat” (HR. Muslim)[10]
            Imam Abul Qasim Al Ashbahani menyatakan dalam muqaddimah kitab beliau: “Segala puji bagi Allah yang telah menampakkan tanda-tanda kebenaran lalu menjelaskannya dan telah memunculkan manhaj agama ini lalu menerangkannya. Dialah yang telah menurunkan Al Qur’an lalu seluruh hujjah ada padanya dan mengutus Muhammad sebagai Rasul, sehingga memutus seluruh alasan (untuk berpaling). Kemudian Rasulullah telah berda’wah, bersungguh-sungguh dan berjihad serta menjelaskan jalan kebenaran kepada umat ini. Beliau juga menyampaikan syariat kepada mereka syari’at agar mereka tidak menyatakan: ‘Belum datang kepada kami pemberi kabar gembira (Basyir) dan pemberi peringatan (Nadzir)’[11]

 BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari seluruh isi makalah ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa;
1)      Allah tidak mengutus seorang Rasul pun kecuali Dia berikan wahyu kepadanya yang berisi perintah untuk menyembah hanya kepada Allah. (Q.s. Al-Anbiya: 25)
2)       Allah memperingatkan kepada orang-orang yang berpaling dari ajaran Allah untuk tidak melakukan kesalahan yang sama, setelah mendapatkan ampunan dan pertolongan Allah. Seperti kisah Bani Israil yang berpaling dari menyembah Allah kepada menyembah patung anak sapi, tatkala Nabi Musa meninggalkan mereka sementara waktu selama 40 hari. (Q.s. Al-Baqarah: 51-53)
3)       Allah mengutus Rasul kepada bangsa Arab yang buta huruf, tanpa kitab suci dan tidak ada risalah yang disampaikan sebelumnya, agar mereka betul-betul percaya, bahwa ajaran yang disampaikannya berasal dari Allah semata. Tanpa rekayasa. (Q.s. Al-Jumu’ah: 2)
4)      Allah mengutus Rasulullah Muhammad Saw untuk seluruh alam, bukan hanya sebagian golongan atau wilayah teritorial. (Q.s al-Anbiya: 107)
Rosul adalah salah satu elan vital bagi Aqidah kita, oleh karena itu Allah memerintahkan kita untuk meng-imaninya.
B.     Saran
1)      Mari kita ambil pelajaran dari generasi-generasi sebelum kita agar kita tidak terjebak kedalam keingkaran kepada Allah Swt.
2)      Mari kita Imani, dan tauladani para Rasul Allah, terutama Rasulullah Muhammad Saw.


[1] Syamil Al-Qur’an, The Miracle 15 in 1 – Tafsir Al-Muyassar. Bandung: PT. Sygma Examedia Arkanleema, hal. 646
[2] DR. Abdullah bin Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6, Cetakan 2. Jakarta: Pustaka Imam Syafei, 2009, hal. 76
[3] Syamil Al-Qur’an, Op Cit, hal.14.
[4] DR. Abdullah bin Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Cetakan 2. Jakarta: Pustaka Imam Syafei, 2009, hal. 130

[5] Syamil Al-Qur’an, Op Cit, hal.1104
[6] DR. Abdullah bin Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 9, Cetakan 2. Jakarta: Pustaka Imam Syafei, 2009, hal. 422 
[7] Ibid, hal. 423
[8] Syamil Al-Qur’an, Op Cit, hal.660
[9] DR. Abdullah bin Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 6, Cetakan 2. Jakarta: Pustaka Imam Syafei, 2009, hal. 121
[10] Ibid, hal. 121
[11]Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.Tugas dan Kekhususan Para Rasul Allah, http://ustadzkholid.com/aqidah/mengenal-islam/tugas-dan-kekhususan-para-rasul-allah/ [26 Oktober 2011]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar