Sabtu, 24 Maret 2012

DASAR METODE PEMBELAJARAN


OLEH, FAHIROH
A.    PENGERTIAN METODE PEMBELAJARAN
            Metode secara harfiah berarti “cara”. Secara umum, metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam pendapat lain juga dijelaskan bahwa metode adalah cara atau prosedur yang dipergunakan oleh fasilitator dalam interaksi belajar dengan memperhatikan keseluruhan sistem untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan kata “mengajar” sendiri berarti memberi pelajaran (Fathurrohman dan Sutikno, 2007; 55).
Berdasarkan pandangan di atas dapat dipahami bahwa metode mengajar merupakan cara-cara menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Metode itu sendiri merupakan salah satu sub system dalam sistem pembelajaran, yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Oleh karena itu, salah satu masalah yang sangat memerlukan perhatian dalam kegiatan pembelajaran adalah metode pembelajaran (learning method). Pada awalnya metode kurang mendapatkan perhatian, karena orang berpandangan bahwa pembelajaran itu merupakan suatu kegiatan yang sifatnya praktis. Jadi tidak diperlukan pengetahuan (teori) yang ada sangkut pautnya dengan pembelajaran. Orang merasa sudah mampu mengajar dan menjadi pendidik atau fasilitator jika sudah menguasai materi yang akan disampaikan. Pandangan ini tidaklah benar. Fasilitator perlu pula mempelajari pengetahuan yang ada kaitannya dengan kegiatan pembelajaran, khususnya metode pembelajaran, yang berguna untuk “bagaimana memproses” terjadinya interaksi belajar. Jadi metode digunakan oleh guru untuk mengkreasi lingkungan belajar dan mengkhususkan aktivitas di mana guru dan peserta didik terlibat selama proses pembelajaran berlangsung.[1]
Metode memiliki peran yang sangat strategis dalam mengajar. Metode berperan sebagai rambu-rambu atau “bagaimana memproses” pembelajaran sehingga dapat berjalan baik dan sistematis. Bahkan dapat dikatakan proses pembelajaran tidak dapat berlangsung tanpa suatu metode. Karena itu, setiap guru dituntut menguasai berbagai metode dalam rangka memproses pembelajaran efektif, efesien, menyenangkan sehingga tercapai tujuan pembelajaran yang ditargetkan. Secara implementatif metode pembelajaran dilaksanakan sebagai teknik, yaitu pelaksanakan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan.
B.     DASAR METODE PEMBELAJARAN
Sebelum lebih jauh berbicara soal dasar metode pembelajaran, atau metode pembelajaran yang paling dasar, kita harus melihat terlebih dahulu potensi dasar yang dimiliki manusia selaku objek pendidikan. Manusia memiliki potensi dasar berupa Indera. Ketika anak manusia lahir, indera yang pertama kali berfungsi adalah indera pendengaran. Allah berfirman dalam Al-Qur’an,
Artinya:           “Dan, Allah yang mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun. dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati.” (QS. An-Nahl; 78)
Dalam ayat tersebut, Allah menyebut pendengaran sebagai urutan pertama sebelum penglihatan kemudian hati, adalah sebagai gambaran bahwa Allah memfungsikan telinga terlebih dahulu, baru kemudian mata dan hati. Oleh karenanya, tatkala seorang anak lahir, Islam mengarahkan pentingnya mengadzankan pada telinga anak yang baru lahir. Hal tersebut mengandung hikmah untuk mengetuk pendengaran bayi –sebagai indera yang pertama kali berfungsi—dengan takbir, dua kalimat syahadat, dan dengan pernyataan yang meng-Esakan Allah ta’ala.[2]
Bersumber dari indera manusia secara dasar, dan dicontohkan langsung oleh Rasulullah Saw, metode pembelajaran dapat di klasifikasikan sebagai berikut:
a.      Metode Menghafal Melalui Pendengaran
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa indera pendengaran adalah indera yang pertamakali Allah fungsikan, maka metode pembelajaran yang bijak adalah memfungsikan terlebih dahulu indera pendengaran. Pendengaran anak harus terus dilatih sedemikian rupa sehingga akan merangsang daya ingatnya terhadap apa yang ia dengar. Menghafal pada tahap ini adalah yang berasal dari pendengarannya, bukan dari penglihatannya yang biasanya hasil baca dan pengamatan anak.
Secara nyata saat ini kita sering menemukan banyak anak yang bisa hafal banyak hal padahal ia belum dapat membaca, semisal banyak anak yang hafal syair lagu-lagu atau nyanyian-nyanyian yang sering ia dengar. Jika diarahkan kepada hal yang positif, seperti menghafal Al-Qur’an dengan secara rutin diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, meskipun belum mengenal huruf hijaiyah, anak akan dengan mudah cepat menghafal ayat-ayat yang sering ia dengarkan itu.
b.      Metode Qudwah/ Memberikan Contoh Ketauladanan
Masih dalam Qur’an surat An-Nahl ayat 78, setelah pendengaran, Allah menyebutkan penglihatan sebagai indera yang Allah fungsikan. Artinya setelah menghafal dari apa yang ia dengar, ia akan belajar dari apa yang ia lihat. Oleh karenanya, orang tua atau guru harus memberikan contoh atau ketauladanan kepada anak, karena anak akan mulai merekam dan meniru apa yang ia lihat.
c.       Metode Praktis Empiris
Metode yang mengedepankan praktek atau latihan langsung berdasarkan pengalaman anak terhadap apa yang melekat padanya, terutama indera dan organ tubuh lainnya. Mendidik dan mengasah ketajaman indera anak dapat membuahkan pengetahuan dan pengalaman. Seiring dengan pertumbuhannya, anak mulai menggunakan misalnya kedua tangannya untuk bekerja yang itupun berpengaruh terhadap kecerdasan akalnya. Secara perlahan, anak-anak akan terlatih dan terbiasa dengan organ-organ tubuhnnya.[3]
Rasulullah Saw melatih anak secara langsung bagaimana menggunakan tangannya agar bekerja dengan terampil dan benar. Seperti dalam peristiwa yang pernah terjadi, ketika Rasulullah Saw sedang lewat dan melihat seorang anak sedang menguliti kambing dengan cara yang salah, Beliau langsung mendatanginya dan menunjukkan cara menguliti kambing yang benar.[4]
d.      Membangkitkan Potensi Fitrah
Setiap anak dilahirkan suci, Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. : Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya lah yang menjadikan dia seorang yahudi atau nasrani atau majusi sebagaimana seekor hewan melahirkan seekor hewan yang sempurna. Apakah kau melihatnya buntung?” kemudian Abu Hurairah membacakan ayat-ayat suci ini: (tetaplah atas) fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. (Hukum-hukum) ciptaan Allah tidak dapat diubah. Itulah agama yang benar. Tapi sebagian besar manusia tidak mengetahui (QS Ar Rum [30]:30)[5]
Potensi fitrah anak yang suci dan cenderung mencintai kebenaran, harus senantiasa terpelihara hatinya agar tidak menjadi kotor dan rusak. Sebagaimana diterangkan pada An-Nisa ayat 78, bahwa potensi indera manusia setelah pendengaran dan penglihatan adalah hati. Hati adalah pemegang kendali terhadap apa yang ada pada manusia. Jika hatinya baik maka baiklah seluruhnya, jika hatinya rusak, maka seluruhnyapun akan rusak.
Oleh karena itu, orang tua maupun guru harus senantiasa membangkitkan potensi fitrah seorang anak dengan memberikannya rangsangan-rangsangan, yang dapat membuat hati lebih peka dan bersih.
C.    KESIMPULAN
Dasar metode pembelajaran adalah dengan memperhatikan, merangsang dan memfungsikan indera dengan baik. Pada awalnya manusia yang lahir kedunia tidak memiliki apapun, sehingga Allah memberikan pendengaran, penglihatan, dan hati. Pemberian Allah ini bukan tanpa maksud, pemberian Allah ini sebagai alat yang apabila dilatih dengan baik, dapat memberikan hasil yang maksimal pada manusia. Oleh karenanya, proses pembelajaran lebih bijak apabila metode yang dipergunakan merujuk kepada memaksimalkan indera-indera yang telah Allah beri. Hal itupun yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Wallahu’Alam.

[1] Huzaifah Hamid, Konsep Dasar Metode dan Teknik Pembelajaran, http://zaifbio.wordpress.com/2009/07/01/konsep-dasar-metode-dan-teknik-pembelajaran/ [9 Maret 2012]
[2] Syakir Abdul Adzim, Membimbing Anak Terampil Berbahasa, Jakarta: Gema Insani, 2006, Cet. 3, hal. 10-11
[3] Ir. Muhammad Ibnu Abdul Hafidz Suwaid, Cara Nabi Mendidik Anak, Jakarta: Al-I’Tishom, 2010, Cet. 4, hal. 90
[4] Ibid.,

Jumat, 23 Maret 2012

HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT


OLEH, FAHIROH

A.    PENGERTIAN HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT
            Secara etimologis, hubungan masyarakat diterjemahkan dari bahasa inggris “public relation”, yang berarti hubungan lembaga (sekolah) dengan masyarakat ialah: sebagai hubungan timbal  balik antara suatu organisasi dengan masyarakatnya.
            Mengutip pendapat Onong U. Efendi dalam buku yang ditulis tim dosen jurusan administrasi pendidikan (Tim dosen jurusan administrasi pendidikan, 2003:150) mengemukakan bahwa: Human Relation dan Public Relation adalah kegiatan berencana untuk menciptakan, membina, dan memelihara sikap budi yang menyenangkan bagi organisasi di satu pihak dan public dipihak lain. Untuk mencapainya adalah dengan jalan komunikasi yang baik dan luas secara timbal balik.[1]
Menurut J. C. Siedel (Suryosubroto 2004: 156) à Public relation is the continuing proces by wich management endeovors to obtain the goodwill and understanding of its costumer, its employees an the public at large, inwardly througt self analysis and correction, outwordly througt all means of expression. Dari pengertian ini dapat diketahui bahwa public relation (Humas) adalah proses yang berjalan terus menerus, dimana manajemen berusaha untuk memperoleh goodwill dan pengertian dari para pegawai, langganan, dan masyarakat luas. Ke dalam melalui analisa, dan keluar melalui jalan menggunakan pernyataan. Jadi bahwa dalam pelaksanaan hubungan masyarakat merupakan suatu proses yang terencana yang berkesinambungan guna memperoleh itikad baik dari semua pihak, baik kepada pihak internal (Kepala sekolah, guru, staf) maupun kepada pihak eksternal (orang tua, masyarakat).[2]
B.     HUKUM HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT
Seperti yang kita ketahui, sekolah adalah bagian dari masyarakat. Sekolah terbentuk dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Dan ini yang menjadi dasar pentingnya atau wajibnya hubungan sekolah dan masyarakat agar terus diciptakan, dibangun dengan iklim yang baik sehingga terciptanya kemajuan sekolah yang pada akhirnya berimbas pula pada kemajuan masyarakat.
C.    TUJUAN HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT

Tujuan hubungan sekolah dan masyarakat adalah untuk menciptakan hubungan sekolah dengan masyarakat secara harmonis, untuk meningkatkan kemajuan pendidikan di sekolah. Selain itu, agar masyarakat dapat mengambil manfaat dengan turut msnikmati kemajuan yang dicapai oleh sekolah.
Menurut Elsbree, tujuan hubungan sekolah dan masyarakat adalah sebagai berikut:
·         Untuk meningkatkan kualitas belajar dan pertumbuhan anak.
·         Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya pendidikan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
·         Untuk mengembangkan antusiasme atau semangat saling bantu antara sekolah dan masyarakat demi kemajuan kedua belah pihak.[3]
Ketiga tujuan tersebut menggambarkan adanya “two way traffic” atau dua arus komunikasi yang saling timbal balik antara sekolah dengan masyarakat. Hubungan sekolah dan masyarakat akan berjalan baik apabila terjadi kesepakatan antara sekolah dengan masyarakat  tentang  “policy” atau kebijakan, perencanaan, program dan strategi pelaksanaan pendidikan sekolah.
D.    PENGARUH TIMBAL BALIK ANTARA SEKOLAH DAN MASYARAKAT

a)      Pengaruh Sekolah terhadap Masyarakat
Pengaruh sekolah terhadap masyarakat pada dasarnya tergantung kepada luas-tidaknya produk serta kualitas dari produk sekolah itu sendiri. Semakin luas sebaran produk sekolah ditengah-tengah masyarakat, lebih-lebih bila diikuti dengan tingkatan kualitas yang memadai, tentu produk sekolah tersebut membawa pengaruh positif dan berarti bagi  perkembangan masyarakat bersangkutan. Dalam hubungan ini sekolah bisa disebut sebagai lembaga investasi manusiawi. Investasi jenis ini sangat penting bagi perkembangan, perubahan dan kemajuan masyarakat. Ada empat pengaruh yang bisa dimainkan oleh pendidikan persekolahan terhadap perkembangan masyarakat dilingkungannya. Pengaruh tersebut adalah:
1.      Mencerdaskan kehidupan masyarakat
2.      Membawa virus pembaruan bagi perkembangan masyarakat
3.      Melahirkan warga masyarakat yang siap dan terbekali bagi kepentingan kerja dilingkungan masyarakat.
4.      Melahirkan sikap positif dan konstruktif bagi warga masyarakat, sehingga tercipta integrasi sosial yang harmonis di tengah-tengah masyarakat.[4]
b)      Pengaruh Masyarakat terhadap Sekolah
Masyarakat selalu bertumbuh dan berkembang. Masyarakat memiliki dinamika. Selain itu setiap masyarakat memiliki identitas tersendiri sesuai dengan pengalaman kesejahteraan dan budayanya. Identitas dan dinamika itu secara langsung akan berpengaruh terhadap tujuan, orientasi dan proses pendidikan di persekolahan.
Identitas suatu masyarakat dan dinamikanya, senantiasa membawa pengaruh terhadap orientasi dan tujuan pendidikan pada lembaga persekolahan. Hal tersebut dikarenakan sekolah merupakan institusi yang dilahirkan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Pengaruh identitas suatu masyarakat terhadap program pendidikan di sekolah-sekolah bisa dibuktikan dengan berbedanya orientasi dan tujuan pendidikan pada masing-masing negara. Setiap negara memiliki ciri khas dalam orientasi dan tujuan pendidikannya. Pengaruh pertumbuhan dan perkembangan masyarakat juga terlihat dlaam perubahan orientasi dan tujuan pendidikann, dari satu periode tertentu, dengan periode berikutnya. Oleh karena itu, tidak pernah ada kurikulum yang bersifat permanen. Akan tetapi selalu dinilai, disempurnakan, disesuaikan dengan tuntutan perkembangan masyarakat yang terjadi. Soal orientasi juga dipengaruhi oleh tuntutan perkembangan masyarakat.
Oleh karena orientasi dan tujuan pendidikan dipengaruhi oleh kondisi masyarakat, maka proses pendidikan di sekolah tidak dapat lepas dari pengaruh masyarakat. Pengaruh yang dimaksud yaitu pengaruh sosial budaya dan partisipasinya. Pengaruh  sosial budaya biasanya tercermin dalam proses belajar mengajar menyangkut pola aktivitas pendidik maupun anak didik. Sedangkan pengaruh partisipasi berdampak pada proses penyelenggaraan pendidikan yang melibatkan berbagai komponen baik komponen manusiawi -non manusiawi, atau komponen materil-non materil, Seperti dukungan moril dan dana untuk perlengkapan dan kebutuhan pendidikan.
Mengingat pentingnya hubungan timbal balik antara sekolah dan masyarakat, maka penting pula direalisirnya dengan berbagai bentuk dna cara pelaksanaannya. Beberapa bentuk atau cara yang telah dikenal adalah; open door politics atua pemberian kesempatan kepada orang tua murid berkunjung ke sekolah untuk membicarakan masalah khusus yang terjadi pada anaknya; home visit atau kunjungan sekolah ke rumah murid; penggunaan resources person (kunjungan sekolah ke obyek-obyek tertentu di masyarakat, pertemuan antara orang tua murid dan warga sekolah, dan pengadaan serta mengefektifkan komite sekolah.[5]
E.     JENIS HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT
Jenis hubungan sekolah dan masyarakat itu dapat digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu:
1)      Hubungan edukatif, ialah hubungan kerja sama dalam hal mendidik murid, antara guru di sekolah dan orang tua di dalam keluarga. Adanya hubungan ini dimaksudkan agar tidak terjadi perbedaan prinsip atau bahkan pertentangan yang dapat mengakibatkan keragu-raguan pendirian dan sikap pada diri anak.
2)      Hubungan kultural, yaitu usaha kerja sama antara sekolah dan masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada. Untuk itu diperlukan hubungan kerja sama antara kehidupan di sekolah dan kehidupan dalam masyarakat. Kegiatan kurikulum sekolah disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan perkembangan masyarakat. Demikian pula tentang pemilihan bahan pengajaran dan metode-metode pengajarannya.
3)      Hubungan institusional, yaitu hubungan kerja sama antara sekolah dengan lembaga-lembaga atau instansi resmi lain, baik swasta maupun pemerintah, seperti hubungan kerja sama antara sekolah satu dengan sekolah-sekolah lainnya, kepala pemerintah setempat, ataupun perusahaan-perusahaan Negara, yang berkaitan dengan perbaikan dan perkembangan pendidikan pada umumnya.[6]
F.     PRINSIP-PRINSIP HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT
a)      Integrity à Semua kegiatan yang berkaitan dengan sekolah dan masyarakat harus terpadu, dan terbuka. Tidak ada istilah hidden agenda.
b)      Continuity à Memelihara hubungan antara sekolah dan masyarakat secara continue atau terus menerus berkelanjutan.
c)      Coverage à Dalam kegiatan pemberian informasi harus dilakukan secara menyeluruh dan mencakup semua aspek.
d)     Simplicity à Menyederhanakan komunikasi terkait informasi agar mudah terserap dan dimengerti.
e)      Constructiveness à Pola hubungan yang dibangun hendaknya dilakukan secara konstruktif sehingga menghasilkan timbal balik atau respon yang positif.
f)       Adaptability à Pola hubungan sekolah dan masyarakat harus beradaptasi dengan kondisi terutama yang ada di masyarakat.[7]

G.    TEKNIK-TEKNIK HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT (ORANG TUA)
Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan untuk memberikan gambaran tentang sekolah yang perlu diketahui masyarakat antara lain;
a)      Teknik Tertulis. Cara tertulis yang dapat digunakan meliputi:
§  Laporan tertulis yang dilakukan setiap triwulan, catur wulan, semester, atau tahunan. Laporan tersebut tidak hanya berupa angka-angka, tetapi menyangkut informasi yang bersifat diagnostik, menginformsikan tentang kelebihn dan kekurangan siswa.
§  Pamflet. Pamflet merupakan selebaran yang biasanya berisi tentang sejarah lembaga pendidikan tersebut, staf pengajar, fasilitas yang tersedia, dan kegiatan belajar. Pamphlet ini selain di bagikan ke wali murid juga bias di sebarkan ke masyarakat umum, selain untuk menumbuhkan pengertian masyarakat juga sekaligus untuk promosi lembaga.
§  Berita kegiatan murid. Berita ini dapat dibuat sederhana mungkin pada selebaran kertas yang berisi informasi singkat tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sekolah atu pesantren. Dengan membacanya orang tua murid mengetahui apa yang terjadi di lembaga pendidikan tersebut, khususnya kegiatan yang dilakukan murid.
§  Catatan berita gembira. Teknik ini sebenarnya mirip dengan berita kegiatan murid, keduanya sama-sama ditulis dan disebarkan ke orang tua. Hanya saja catatan berita gembira ini berisi tentang keberhasilan seoran murid. Berita tersebut ditulis di selebaran kertas dan disampaikan kepada wali murid atau bahkan disebarkan ke masyarakat.
§  Buku kecil tentang cara membimbing anak. Dalam rangka menciptakan hubungan yang harmonis dengan orang tua, kepala sekolah atau guru dapat membuat sebuah buku kecil yang sederhana yang berisi tentang cara membimbing anak yang efektif, kemudian buku tersebut diberikan kepada orang tua murid.
b)      Teknik Lisan. Hubungan sekolah dengan masyarakat dapat juga lisan, yaitu:
§  Kunjungan rumah. Dalam rangka mengadakan hubungan dengan masyarakat, pihak sekolah dapat mengadakan kunjungan ke rumah wali murid, warga atupun tokoh masyarakat. Melalui kunjungan rumah ini guru akan mengetahui masalah anak dirumahnya. Apabila setiap anak diketahui problemnya secara totalitas, maka program pendidikan akan lebih mudah direncanakan untuk disesuaikan dengan minatnya. Hal ini akan memperlancar mancapai tujuan program pendidikan sekolah tersebut.
§  Panggilan orang tua. Selain mengadakan kunjungan ke rumah, pihak sekolah sesekali juga memanggil orang tua murid datang ke sekolah. Setelah dating, mereka diberi penjelasan tentang perkembangan pendidikan di lembaga tersebut. Mereka juga perlu diberi penjelasan khusus tentang perkembangan pendidikan anaknya.
§  Pertemuan. Dengan teknik ini berarti sekolah mengundang masyarakat dalam acara pertemuan khusus untuk membicarakan masalah atau hambatan yang dihadapi sekolah. Pertemuan ini sebaiknya diadakan pada waktu tertentu yang dapat dihadiri oleh semua pihak yang diundang. Sebelum pertemuan dimulai acaranya disusun terlebih dahulu. Oleh karena itu, dalam setiap akan mengadakan pertemuan sebaiknya dibentuk panitia penyelenggara.
c)      Teknik Peragaan. Hubungan sekolah dengan masyarakat dapat dilakukan dengan cara mengundang masyarakat melihat peragaan yang diselenggarakan sekolah. Peragaan yang diselenggarakan bias berupa pameran keberhasilan murid. Misalkan di TK menampilkan anak-anak bernyanyi, membaca puisi, atau biasanya di pesantren ketika mengadakan pengajian ditampilkan santri-santri yang hafal nadhom alfiyah. Pada kesempatan itu kepala sekolah atau guru atau juga pengasuh kalau di pondok pesantren dapat menyampaikan program-program peningkatan mutu pendidikan dan juga masalah atau hambatan yang dihadapi dalam merealisasikan program-program itu.
d)     Teknik Elektronik. Seiring dengan perkembangan teknologi elektronik maka dalam mengakrabkan sekolah dengan orang tua murid dan masyarakat pihak sekolah dapat menggunakan sarana elektronik, misalkan dengan telpon, televisi, ataupun radio, sekaligus sebagai sarana untuk promosi pendidikan.[8]
H.    KESIMPULAN
Sekolah dan masyarakat merupakan dua jenis lingkungan yang berbeda, namun keduanya tidak dapat dipisahkan bahkan saling membutuhkan, khususnya dalam upaya mendidik generasi muda. Berbagai persoalan yang dihadapi sekolah juga merupakan bagian dari persoalan masyarakat. Keduanya mempunyai keterikatan kuat yang tidak dapat dipisahkan, karena sekolah merupakan bagian dari masyarakat, dan masyarakat membutuhkan sekolah dalam upaya regenerasi anak bangsa agar lebih baik. Oleh karenanya, hubungan sekolah dan masyarakat harus selalu diperhatikan kesinambungannya dan keefektifannya agar dapat dirasakan manfaatnya secara bersama.


[1] Perpustakaan UPI Bandung, Kajian Pustaka Hubungan Sekolah dan Masyarakat, http://repository.upi.edu/operator/upload/s_a0151_0606177_chapter2.pdf,  hal. 16, [1 Maret 2012]
[2] Ibid., hal. 18
[3] Ibid., hal. 19
[4] Tim Dosen IKIP Malang, Pengantar Dasar-dasar Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 2003, Cet. 5, hal. 179
[5] Ibid., hal. 186-187
[6] Wahyu Fajaryanto, dkk., Manajemen Hubungan Sekolah dan Masyarakat, http://alchemistviolet.blogspot.com/2011/01/manajemen-hubungan-sekolah-dengan.html [1 Maret 2012]
[7] Perpustakaan UPI Bandung, Op.Cit., hal. 24-28
[8] Wahyu Fajaryanto, dkk., Op.Cit.,

Rabu, 29 Februari 2012

OBJEK DAN PONDASI ILMU

OLEH, FAHIROH

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Berbicara ilmu kita akan berbicara terlebih dahulu tentang pengetahuan. Pengetahuan apa dan siapa? Jawabnya mungkin pengetahuan apa saja bagi manusia, karena dalam hal ini manusia sangat membutuhkan pengetahuan dalam menjalankan kehidupannya, juga karena manusia sebagai subjek dari pengetahuan.
Pengetahuan manusia pada umumnya didapat melalui komunikasi dengan kenyataan yang ada bersamanya, atau yang dialaminya, yang pada akhirnya akan menghasilkan ide atau pemikiran dengan kesadarannya. Manusia menerima pengaruh dari lingkungan, baik dalam skala kecil di masyarakat, maupun dalam skala yang lebih besar. Kemudian manusia berusaha memahami serta mengungkapnnya. Dan sebaliknya, lingkungan memberikan makna kepada manusia. Maka pengetahuan manusia bersifat dialogal.[1] Itu adalah proses awal untuk terciptanya ilmu, yang subjek dari ilmu adalah manusia.
Dalam rangka pengetahuan yang sesuai dengan hakikatnya, dalam diri manusia dapat dibedakan sekurang-kurangnya tiga rangkap pengetahuan yang berbeda menurut tingkat dan kualitas kemampuannya, yang pada hakikatnya merupakan satu kesatuan. Pengetahuan indrawi, pengetahuan naluri, pengetahuan rasional. Lantas bagaimana dengan ilmu, objek ilmu dan landasan dasar (pondasi) ilmu? sehingga pengetahuan tidak hanya dikatakan sebagai pengetahuan, tapi sebagai ilmu.
B.     RUMUSAN MASALAH
a.       Apa definisi objek, pondasi, dan ilmu?
b.      Apa yang termasuk objek ilmu dan pondasi ilmu?
c.       Apa urgensi objek dan pondasi bagi ilmu?
C.    TUJUAN
a.       Pembaca mengerti dan memahami definisi objek, pondasi, dan ilmu.
b.      Pembaca mengetahui objek ilmu dan pondasi ilmu.
c.       Pembaca mengetahui urgensi objek dan pondasi bagi ilmu.
 

BAB II
OBJEK DAN PONDASI ILMU

A.    Definisi Objek, Pondasi, dan Ilmu
a.      Definisi Objek
Objek adalah  hal, perkara, atau orang yang menjadi pokok pembicaraan. Atau suatu benda, hal, dan yang lainnya, yang dijadikan sasaran untuk diteliti, diperhatikan, dan lain sebagainya.[2]
b.      Definisi Pondasi
Secara arti sesungguhnya, pondasi adalah dasar bangunan yang kuat, biasanya (terdapat) di bawah permukaan tanah tempat bangunan didirikan; atau fundamen. Pondasi juga memiliki sinonim kata, seperti landasan, yang berarti alas. Atau dasar, yang berarti pokok atau pangkal.[3]
c.       Definisi Ilmu
Pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang pengetahuan.[4] Atau ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.[5]
B.     Objek Ilmu
Dalam filsafat ilmu barat (modern), ilmu dibatasi hanya pada bidang empiris atau fisik. Yaitu segala sesuatu yang dapat diobservasi oleh indera.  Sedangkan menurut epistimologi islam, kita tidak hanya dapat mengetahui yang fisik saja, melainkan juga yang metafisik (non fisik).[6]
Dalam ilmu pengetahuan dikenal ada dua objek ilmu pengetahuan, yaitu;
a)      Objek material à Segala sesuatu yang menjadi kajian ilmu pengetahuan pada umumnya, seperti manusia, masyarakat, alam semesta, tata surya, juga flora dan fauna.
b)      Objek formal à Pusat kajian khusus dari ilmu pengetahuan tertentu. Misalnya manusia sebagai objek material dapat dipelajari oleh ilmu politik, antropologi, kedokteran, psikologi, dan lain sebagainya. Objek formal dari ilmu antropologi adalah kebudayaan dari manusia. Psikologi mempelajari jiwa dari manusia. Kedokteran mempelajari proses metabolism dan penyakit yang ada pada manusia. Sosiologi mempelajari hubungan antar manusia. Dan masih banyak contoh lainnya.
Dengan demikian, objek material ilmu dapat sama. Oleh karena itu, dalam ilmu social sering ditemukan tokoh-tokoh dengan teori yang sama pada cabang ilmu yang berbeda. Misalnya karl mark ada dan dibahas dalam ilmu ekonomi, ilmu politik, dan ilmu sejarah. Perbedaan ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya judtru terletak pada objek-objek formalnya yang menjadi perhatian dari kekhususan dari cabang ilmu pengetahuan tertentu.[7]
Pendapat yang lain menyatakan bahwa objek ilmu adalah peristiwa-peristiwa alam, yang dapat dikenal baik, karena ia sesuatu yang real (nyata). Akan tetapi objek tersebut dapat berubah-ubah (tunduk pada hukum perubahan), oleh karena itu pengetahuan ilmiah tidak dapat bersifat mutlak. Objek tersebut dapat dikatakan nyata atau real jika sekurang-kurangnya mempunyai tiga arti. Pertama, yang nyata berarti lepas dari pikiran manusia. Real, alam yang membuat rangsangan sehingga menarik ilmuwan untuk meneliti. Kedua, realitas sebagai objek ilmu adalah realitas yang dikenal, yang tampak bagi ilmuwan. Ketiga, realitas yang dimaksud adalah realitas public, realitas yang menjadi perhatian banyak orang.[8]
Dalam pendapat yang lain lagi disebutkan bahwa objek ilmu dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu alam materi dan alam non materi. Sains mutakhir yang mengarahkan pandangan pada alam materi, menyebabkan manusia membatasi ilmunya pada bidang tersebut. Bahkan sebagian diantara mereka tidak mengakui adanya realitas yang tidak dapat dibuktikan dialam materi.[9]
Objek ilmu menurut ilmuwan muslim mencakup alam materi dan alam non materi. Karena itu, sebagian ilmuwan muslim, khususnya kaum sufi dengan mendasarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an memperkenalkan ilmu yang mereka sebut Al-Hadharat Al-Ilahiyah Al-Khams (lima kehadiran Ilahi), untuk menggambarkan hierarki keseluruhan realitas wujud. Kelima hal tersebut adalah;
1.      Alam Nảsut (alam materi)
2.      Alam Malakut (alam kejiwaan)
3.      Alam Jabarut (alam ruh)
4.      Alam Lahut (sifat-sifat Ilahiyah)
5.      Alam Hanut (wujud zat Ilahi)
Ada tata cara dan sarana yang harus digunakan untuk meraih pengetahuan tentang kelima hal tersebut.
Artinya:     “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia (Allah) memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. [QS. An-Nahl; 78]        
Ayat ini mengisyaratkan penggunaan empat sarana yaitu pendengaran, mata (penglihatan), akal, serta hati.    
C.    Landasan Ilmu
Di dalam dunia filsafat kita mengenal dimensi filosofi sebagai landasan ilmu:
1.      Ontologi/ Metafisika
Ontologi berasal dari bahasa yunani, “on”  berarti ada, “ontos” berarti keberadaan, “logos” berarti pemikiran [Lorens Bagus 2000]. Jadi ontologi adalah pemikiran mengenai sesuatu yang ada dan keberadaannya. Di dalam metafisika itu membahas tentang yang ada, bahwa obyek ilmu pengetahauan itu adalah sesuatu yang ada, dibagi menjadi tiga, yakni ada dalam pikiran, ada dalam kemungkinan, ada dalam kenyataan.
2.      Epistemology
Berasal dari kata episteme dan logos. Episteme à Pengetahuan, Logos àKata, pemikiran, percakapan, atau ilmu. Epistemology adalah Cabang filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode, dan keshahihan (kebenaran) pengetahuan. [Surajiyo: 2005].[10]  Atau berarti juga bidang filsafat yang mempelajari bagaimana cara manusia mengetahui sesuatu yang sudah “ada”.
3.      Aksiology
Adalah bidang filsafat yang mempelajari tentang nilai-nilai. Secara aksiologis ilmu harus digunakan untuk kemaslahatan manusia dengan jalan meningkatkan taraf hidup, dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, dan keseimbangan serta kelestarian alam. Upaya ilmiah ini dilakukan dengan penggunaan dan pemanfaatan pengetahuan ilmiah secara komunal universal.[11]
D.    Urgensi Objek dan Pondasi Ilmu
Kedudukan Objek dalam ilmu sangatlah penting, karena ilmu tidak akan pernah ada tanpa adanya objek. Karena objek adalah  hal, perkara, atau orang yang menjadi pokok pembicaraan. Atau suatu benda, hal, dan yang lainnya, yang dijadikan sasaran untuk diteliti, diperhatikan, dan lain sebagainya.
Sedangkan pondasi menjadi sesuatu yang wajib dalam sebuah bangunan ilmu, karena tanpa adanya pondasi, bangunan ilmupun tidak akan pernah bisa terealisasi. Dalam hal ini, ontology/ metafisika, epistemology, dan aksiology. Karena ontology adalah tentang hakikat apa yang dikaji. Epistemology adalah bagaimana cara mendapatkan pengetahuan yang benar. Sedangkan aksiology adalah nilai kegunaan ilmu.
 
BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Dari makalah ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
§  Objek à  Hal, perkara, atau orang yang menjadi pokok pembicaraan. Atau suatu benda, hal, dan yang lainnya, yang dijadikan sasaran untuk diteliti, diperhatikan, dan lain sebagainya.
§  Pondasi à Dasar bangunan yang kuat, biasanya (terdapat) di bawah permukaan tanah tempat bangunan didirikan; atau fundamen. Pondasi juga memiliki sinonim kata, seperti landasan, yang berarti alas. Atau dasar, yang berarti pokok atau pangkal.
§  Ilmu à Pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang pengetahuan.
§   Objek terdiri dari objek material dan objek formal. Namun ada yang berpendapat bahwa objek ilmu adalah materil dan non materil.
§  Pondasi ilmu terdiri dari
-          Ontologi/ Metafisika à Pemikiran mengenai sesuatu yang ada dan keberadaannya. Memikirkan tentang hakikat apa yang dikaji.
-          Epistemology à Adalah bagaimana cara mendapatkan pengetahuan yang benar.
-          Aksiology à Memikirkan dan mempertimbangkan nilai kegunaan ilmu.
§  Urgensi Objek dan Pondasi ilmu adalah vital.
B.     SARAN
Mari kita perbanyak dan perdalam ilmu, dengan proses yang sistematis dan tersruktur, agar mudah untuk terinternalisasi, dan yang paling penting adalah mengamalkan dari setiap ilmu yang kita miliki.


[1] Anton Bakker, Metodologi Penelitian Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 2007), Cet. Ke-11, h.21
[2] Kamus Bahasa Indonesia Online, http://kamusbahasaindonesia.org/massal.php, [14 Februari 2012]
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] Wikipedia, Ilmu, http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu, [14 Februari 2012]
[6] Mulyadi Kartanegara, Integrasi Ilmu, (Jakarta: Arasy PT. Mizan Pustaka, 2005), Cet. Ke-1, h.58
[7] Andreas Soeroso, Sosiologi I SMA kelas X, (Jakarta: Yudhistira, 2008), Cet. Ke-1, h.12
[8] A. Sonny Keraf dan Mikhael dua, Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosofis, (Yogyakarta: Kanisius, 2010), Cet. Ke-10, h.80-81
[9] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an; Tafsir Al-Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat, (Jakarta: Mizan, 1996), Cet. Ke-1, h.436
[10] Itheng Cemani, Landasan Ilmu Pengetahuan, http://itheng.blogspot.com/2011/10/landasan-ilmu-pengetahuan-filsafat-ilmu.html [14 februari 2012]