Jumat, 23 Maret 2012

HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT


OLEH, FAHIROH

A.    PENGERTIAN HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT
            Secara etimologis, hubungan masyarakat diterjemahkan dari bahasa inggris “public relation”, yang berarti hubungan lembaga (sekolah) dengan masyarakat ialah: sebagai hubungan timbal  balik antara suatu organisasi dengan masyarakatnya.
            Mengutip pendapat Onong U. Efendi dalam buku yang ditulis tim dosen jurusan administrasi pendidikan (Tim dosen jurusan administrasi pendidikan, 2003:150) mengemukakan bahwa: Human Relation dan Public Relation adalah kegiatan berencana untuk menciptakan, membina, dan memelihara sikap budi yang menyenangkan bagi organisasi di satu pihak dan public dipihak lain. Untuk mencapainya adalah dengan jalan komunikasi yang baik dan luas secara timbal balik.[1]
Menurut J. C. Siedel (Suryosubroto 2004: 156) à Public relation is the continuing proces by wich management endeovors to obtain the goodwill and understanding of its costumer, its employees an the public at large, inwardly througt self analysis and correction, outwordly througt all means of expression. Dari pengertian ini dapat diketahui bahwa public relation (Humas) adalah proses yang berjalan terus menerus, dimana manajemen berusaha untuk memperoleh goodwill dan pengertian dari para pegawai, langganan, dan masyarakat luas. Ke dalam melalui analisa, dan keluar melalui jalan menggunakan pernyataan. Jadi bahwa dalam pelaksanaan hubungan masyarakat merupakan suatu proses yang terencana yang berkesinambungan guna memperoleh itikad baik dari semua pihak, baik kepada pihak internal (Kepala sekolah, guru, staf) maupun kepada pihak eksternal (orang tua, masyarakat).[2]
B.     HUKUM HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT
Seperti yang kita ketahui, sekolah adalah bagian dari masyarakat. Sekolah terbentuk dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Dan ini yang menjadi dasar pentingnya atau wajibnya hubungan sekolah dan masyarakat agar terus diciptakan, dibangun dengan iklim yang baik sehingga terciptanya kemajuan sekolah yang pada akhirnya berimbas pula pada kemajuan masyarakat.
C.    TUJUAN HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT

Tujuan hubungan sekolah dan masyarakat adalah untuk menciptakan hubungan sekolah dengan masyarakat secara harmonis, untuk meningkatkan kemajuan pendidikan di sekolah. Selain itu, agar masyarakat dapat mengambil manfaat dengan turut msnikmati kemajuan yang dicapai oleh sekolah.
Menurut Elsbree, tujuan hubungan sekolah dan masyarakat adalah sebagai berikut:
·         Untuk meningkatkan kualitas belajar dan pertumbuhan anak.
·         Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya pendidikan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
·         Untuk mengembangkan antusiasme atau semangat saling bantu antara sekolah dan masyarakat demi kemajuan kedua belah pihak.[3]
Ketiga tujuan tersebut menggambarkan adanya “two way traffic” atau dua arus komunikasi yang saling timbal balik antara sekolah dengan masyarakat. Hubungan sekolah dan masyarakat akan berjalan baik apabila terjadi kesepakatan antara sekolah dengan masyarakat  tentang  “policy” atau kebijakan, perencanaan, program dan strategi pelaksanaan pendidikan sekolah.
D.    PENGARUH TIMBAL BALIK ANTARA SEKOLAH DAN MASYARAKAT

a)      Pengaruh Sekolah terhadap Masyarakat
Pengaruh sekolah terhadap masyarakat pada dasarnya tergantung kepada luas-tidaknya produk serta kualitas dari produk sekolah itu sendiri. Semakin luas sebaran produk sekolah ditengah-tengah masyarakat, lebih-lebih bila diikuti dengan tingkatan kualitas yang memadai, tentu produk sekolah tersebut membawa pengaruh positif dan berarti bagi  perkembangan masyarakat bersangkutan. Dalam hubungan ini sekolah bisa disebut sebagai lembaga investasi manusiawi. Investasi jenis ini sangat penting bagi perkembangan, perubahan dan kemajuan masyarakat. Ada empat pengaruh yang bisa dimainkan oleh pendidikan persekolahan terhadap perkembangan masyarakat dilingkungannya. Pengaruh tersebut adalah:
1.      Mencerdaskan kehidupan masyarakat
2.      Membawa virus pembaruan bagi perkembangan masyarakat
3.      Melahirkan warga masyarakat yang siap dan terbekali bagi kepentingan kerja dilingkungan masyarakat.
4.      Melahirkan sikap positif dan konstruktif bagi warga masyarakat, sehingga tercipta integrasi sosial yang harmonis di tengah-tengah masyarakat.[4]
b)      Pengaruh Masyarakat terhadap Sekolah
Masyarakat selalu bertumbuh dan berkembang. Masyarakat memiliki dinamika. Selain itu setiap masyarakat memiliki identitas tersendiri sesuai dengan pengalaman kesejahteraan dan budayanya. Identitas dan dinamika itu secara langsung akan berpengaruh terhadap tujuan, orientasi dan proses pendidikan di persekolahan.
Identitas suatu masyarakat dan dinamikanya, senantiasa membawa pengaruh terhadap orientasi dan tujuan pendidikan pada lembaga persekolahan. Hal tersebut dikarenakan sekolah merupakan institusi yang dilahirkan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Pengaruh identitas suatu masyarakat terhadap program pendidikan di sekolah-sekolah bisa dibuktikan dengan berbedanya orientasi dan tujuan pendidikan pada masing-masing negara. Setiap negara memiliki ciri khas dalam orientasi dan tujuan pendidikannya. Pengaruh pertumbuhan dan perkembangan masyarakat juga terlihat dlaam perubahan orientasi dan tujuan pendidikann, dari satu periode tertentu, dengan periode berikutnya. Oleh karena itu, tidak pernah ada kurikulum yang bersifat permanen. Akan tetapi selalu dinilai, disempurnakan, disesuaikan dengan tuntutan perkembangan masyarakat yang terjadi. Soal orientasi juga dipengaruhi oleh tuntutan perkembangan masyarakat.
Oleh karena orientasi dan tujuan pendidikan dipengaruhi oleh kondisi masyarakat, maka proses pendidikan di sekolah tidak dapat lepas dari pengaruh masyarakat. Pengaruh yang dimaksud yaitu pengaruh sosial budaya dan partisipasinya. Pengaruh  sosial budaya biasanya tercermin dalam proses belajar mengajar menyangkut pola aktivitas pendidik maupun anak didik. Sedangkan pengaruh partisipasi berdampak pada proses penyelenggaraan pendidikan yang melibatkan berbagai komponen baik komponen manusiawi -non manusiawi, atau komponen materil-non materil, Seperti dukungan moril dan dana untuk perlengkapan dan kebutuhan pendidikan.
Mengingat pentingnya hubungan timbal balik antara sekolah dan masyarakat, maka penting pula direalisirnya dengan berbagai bentuk dna cara pelaksanaannya. Beberapa bentuk atau cara yang telah dikenal adalah; open door politics atua pemberian kesempatan kepada orang tua murid berkunjung ke sekolah untuk membicarakan masalah khusus yang terjadi pada anaknya; home visit atau kunjungan sekolah ke rumah murid; penggunaan resources person (kunjungan sekolah ke obyek-obyek tertentu di masyarakat, pertemuan antara orang tua murid dan warga sekolah, dan pengadaan serta mengefektifkan komite sekolah.[5]
E.     JENIS HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT
Jenis hubungan sekolah dan masyarakat itu dapat digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu:
1)      Hubungan edukatif, ialah hubungan kerja sama dalam hal mendidik murid, antara guru di sekolah dan orang tua di dalam keluarga. Adanya hubungan ini dimaksudkan agar tidak terjadi perbedaan prinsip atau bahkan pertentangan yang dapat mengakibatkan keragu-raguan pendirian dan sikap pada diri anak.
2)      Hubungan kultural, yaitu usaha kerja sama antara sekolah dan masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada. Untuk itu diperlukan hubungan kerja sama antara kehidupan di sekolah dan kehidupan dalam masyarakat. Kegiatan kurikulum sekolah disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan perkembangan masyarakat. Demikian pula tentang pemilihan bahan pengajaran dan metode-metode pengajarannya.
3)      Hubungan institusional, yaitu hubungan kerja sama antara sekolah dengan lembaga-lembaga atau instansi resmi lain, baik swasta maupun pemerintah, seperti hubungan kerja sama antara sekolah satu dengan sekolah-sekolah lainnya, kepala pemerintah setempat, ataupun perusahaan-perusahaan Negara, yang berkaitan dengan perbaikan dan perkembangan pendidikan pada umumnya.[6]
F.     PRINSIP-PRINSIP HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT
a)      Integrity à Semua kegiatan yang berkaitan dengan sekolah dan masyarakat harus terpadu, dan terbuka. Tidak ada istilah hidden agenda.
b)      Continuity à Memelihara hubungan antara sekolah dan masyarakat secara continue atau terus menerus berkelanjutan.
c)      Coverage à Dalam kegiatan pemberian informasi harus dilakukan secara menyeluruh dan mencakup semua aspek.
d)     Simplicity à Menyederhanakan komunikasi terkait informasi agar mudah terserap dan dimengerti.
e)      Constructiveness à Pola hubungan yang dibangun hendaknya dilakukan secara konstruktif sehingga menghasilkan timbal balik atau respon yang positif.
f)       Adaptability à Pola hubungan sekolah dan masyarakat harus beradaptasi dengan kondisi terutama yang ada di masyarakat.[7]

G.    TEKNIK-TEKNIK HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT (ORANG TUA)
Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan untuk memberikan gambaran tentang sekolah yang perlu diketahui masyarakat antara lain;
a)      Teknik Tertulis. Cara tertulis yang dapat digunakan meliputi:
§  Laporan tertulis yang dilakukan setiap triwulan, catur wulan, semester, atau tahunan. Laporan tersebut tidak hanya berupa angka-angka, tetapi menyangkut informasi yang bersifat diagnostik, menginformsikan tentang kelebihn dan kekurangan siswa.
§  Pamflet. Pamflet merupakan selebaran yang biasanya berisi tentang sejarah lembaga pendidikan tersebut, staf pengajar, fasilitas yang tersedia, dan kegiatan belajar. Pamphlet ini selain di bagikan ke wali murid juga bias di sebarkan ke masyarakat umum, selain untuk menumbuhkan pengertian masyarakat juga sekaligus untuk promosi lembaga.
§  Berita kegiatan murid. Berita ini dapat dibuat sederhana mungkin pada selebaran kertas yang berisi informasi singkat tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sekolah atu pesantren. Dengan membacanya orang tua murid mengetahui apa yang terjadi di lembaga pendidikan tersebut, khususnya kegiatan yang dilakukan murid.
§  Catatan berita gembira. Teknik ini sebenarnya mirip dengan berita kegiatan murid, keduanya sama-sama ditulis dan disebarkan ke orang tua. Hanya saja catatan berita gembira ini berisi tentang keberhasilan seoran murid. Berita tersebut ditulis di selebaran kertas dan disampaikan kepada wali murid atau bahkan disebarkan ke masyarakat.
§  Buku kecil tentang cara membimbing anak. Dalam rangka menciptakan hubungan yang harmonis dengan orang tua, kepala sekolah atau guru dapat membuat sebuah buku kecil yang sederhana yang berisi tentang cara membimbing anak yang efektif, kemudian buku tersebut diberikan kepada orang tua murid.
b)      Teknik Lisan. Hubungan sekolah dengan masyarakat dapat juga lisan, yaitu:
§  Kunjungan rumah. Dalam rangka mengadakan hubungan dengan masyarakat, pihak sekolah dapat mengadakan kunjungan ke rumah wali murid, warga atupun tokoh masyarakat. Melalui kunjungan rumah ini guru akan mengetahui masalah anak dirumahnya. Apabila setiap anak diketahui problemnya secara totalitas, maka program pendidikan akan lebih mudah direncanakan untuk disesuaikan dengan minatnya. Hal ini akan memperlancar mancapai tujuan program pendidikan sekolah tersebut.
§  Panggilan orang tua. Selain mengadakan kunjungan ke rumah, pihak sekolah sesekali juga memanggil orang tua murid datang ke sekolah. Setelah dating, mereka diberi penjelasan tentang perkembangan pendidikan di lembaga tersebut. Mereka juga perlu diberi penjelasan khusus tentang perkembangan pendidikan anaknya.
§  Pertemuan. Dengan teknik ini berarti sekolah mengundang masyarakat dalam acara pertemuan khusus untuk membicarakan masalah atau hambatan yang dihadapi sekolah. Pertemuan ini sebaiknya diadakan pada waktu tertentu yang dapat dihadiri oleh semua pihak yang diundang. Sebelum pertemuan dimulai acaranya disusun terlebih dahulu. Oleh karena itu, dalam setiap akan mengadakan pertemuan sebaiknya dibentuk panitia penyelenggara.
c)      Teknik Peragaan. Hubungan sekolah dengan masyarakat dapat dilakukan dengan cara mengundang masyarakat melihat peragaan yang diselenggarakan sekolah. Peragaan yang diselenggarakan bias berupa pameran keberhasilan murid. Misalkan di TK menampilkan anak-anak bernyanyi, membaca puisi, atau biasanya di pesantren ketika mengadakan pengajian ditampilkan santri-santri yang hafal nadhom alfiyah. Pada kesempatan itu kepala sekolah atau guru atau juga pengasuh kalau di pondok pesantren dapat menyampaikan program-program peningkatan mutu pendidikan dan juga masalah atau hambatan yang dihadapi dalam merealisasikan program-program itu.
d)     Teknik Elektronik. Seiring dengan perkembangan teknologi elektronik maka dalam mengakrabkan sekolah dengan orang tua murid dan masyarakat pihak sekolah dapat menggunakan sarana elektronik, misalkan dengan telpon, televisi, ataupun radio, sekaligus sebagai sarana untuk promosi pendidikan.[8]
H.    KESIMPULAN
Sekolah dan masyarakat merupakan dua jenis lingkungan yang berbeda, namun keduanya tidak dapat dipisahkan bahkan saling membutuhkan, khususnya dalam upaya mendidik generasi muda. Berbagai persoalan yang dihadapi sekolah juga merupakan bagian dari persoalan masyarakat. Keduanya mempunyai keterikatan kuat yang tidak dapat dipisahkan, karena sekolah merupakan bagian dari masyarakat, dan masyarakat membutuhkan sekolah dalam upaya regenerasi anak bangsa agar lebih baik. Oleh karenanya, hubungan sekolah dan masyarakat harus selalu diperhatikan kesinambungannya dan keefektifannya agar dapat dirasakan manfaatnya secara bersama.


[1] Perpustakaan UPI Bandung, Kajian Pustaka Hubungan Sekolah dan Masyarakat, http://repository.upi.edu/operator/upload/s_a0151_0606177_chapter2.pdf,  hal. 16, [1 Maret 2012]
[2] Ibid., hal. 18
[3] Ibid., hal. 19
[4] Tim Dosen IKIP Malang, Pengantar Dasar-dasar Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 2003, Cet. 5, hal. 179
[5] Ibid., hal. 186-187
[6] Wahyu Fajaryanto, dkk., Manajemen Hubungan Sekolah dan Masyarakat, http://alchemistviolet.blogspot.com/2011/01/manajemen-hubungan-sekolah-dengan.html [1 Maret 2012]
[7] Perpustakaan UPI Bandung, Op.Cit., hal. 24-28
[8] Wahyu Fajaryanto, dkk., Op.Cit.,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar